Nostalgia

Suasana itu terulang kembali, seakan nostalgia. Obrolan ringan tapi berisi, tertawa renyah bersama untuk hal yang mungkin tidak lucu, serta bercerita apa sudah di jalani.

Sayangnya, dulu kami melakukannya di sebuah kamar dengan full musik yang terdengar dari speaker tape dengan kaset sebagai intinya, sekarang kami berbincang riang sambil di halangi jeruji besi dan di awasi para sipir penjara. 

Tapi, dimanapun itu. Berbincang bersamamu selalu menyenangkan. Banyak ilmu yg bisa sekali aku serap. 

Terimakasih, seburuk apapun kamu tetap adik ku yang ku banggakan, yang ku sayangi, yang akan aku ceritakan kehebatanmu pada semua orang..

Tetap berjuang, aku akan terus berada di hatimu. Ill do my best, i promise

Manusia

Aku hanyalah manusia yang tak punya kuasa

Lara berkata tidak, ketika hati ingin tertawa.

Lara berkata tidak, ketika raga ingin bercanda.

Lara menguasai jiwa raga, gundah datang menemani.

Sedihmu, sedihku.

Jika bisa kita bertukar raga, kulakukan demi kau nyaman.

Aku hanyalah manusia yang tak punya kuasa.

Surat untuk irlandi

Irlandi lagi apa kamu disana sekarang? Mudah-mudahan kamu baik-baik saja. Abang disini sehat, tidak kurang apapun, ga usah khawatir.

Makan apa yang ada ya, jangan manja kaya di rumah. 

Semoga semua orang disana baik, ramah, dan ir terlindungi dari masalah.

Abang ga akan pernah lupa sama ir, jangan takut. Kalaupun emang abang belom sempat kesana, karna abang disini juga harus kerja, nyiapin semua ketika suatu saat nanti ir pulang ke rumah.

Abang kangen sama ir, kangen obrolan-obrolan kita yang sebenernya ga jelas, kangen kesel sama ir kalo ir susah di atur, kangen hari-hari dimana abang ga pernah khawatir ir kenapa-kenapa karna abang bisa liat ir.

Ir harus janji ga boleh terpuruk, nanti kita bangun lagi semuanya bareng-bareng, ir punya abang jadi ga usah takut ya.. 

Maaf kalo abang selama ini alfa ngurusin ir, merhatiin ir. 

Sehat terus ya, salam buat temen-temen ir disana, saling jaga, saling lindungi..

Abang sayang banget sama ir. 

Rindu tak kenal waktu

Wangi dupa itu masih sering terasa olehku, lalu teringat kata yang sering kau ucapkan “enak bang, menenangkan”.

Berantakan kamarmu masih sering ku pandangi, tercium aroma tubuhmu yang ku hafal betul.

Sekarang, tak ada lagi engkau yang di penghujung malam mengetuk pintu kamarku hanya sekedar meminta rokok lalu duduk bercerita.

Sekarang tak ada lagi engkau yang di pulang kerjaku sedang duduk di depan layar monitor sambil berkata ” bentar bang segame lagi” yang sering membuatku kadang kesal.

Rasanya baru saja kemarin, tapi rindu itu sudah terasa teramat dalam.

Rasanya baru saja kemarin, tapi rasa nya sudah begitu lama.

Sampai berjumpa lagi, kapan pun itu, aku tunggu kau pulang, bersama kita hadapi dunia. 

Hey, i really miss you.. 

Berkeliling dunia, tak perlu terbang ataupun berjala 

Berkeliling dunia, tak perlu terbang ataupun berjalan.

Cukup duduk, lihat dan dengarkan.

Itu yg selalu kuingat dalam apa yg kau perlihatkan.

Berkeliling dunia, tak perlu terbang ataupun berjalan.

Sosokmu masih dapat kulihat, tp otakmu sudah sampai seluas benua.

Berkeliling dunia, tak perlu terbang ataupun berjalan. 

Pekat otak terasahmu kan slalu kurindukan seperti saat malam malam dimana kita berbagi asbak sambil berbincang tentang dunia.